Jumat, 03 Februari 2012

50 CAMBUKAN UNTUK KETEGUHAN SA'ID BIN MUSAYYAB

Yahya bin Sa'id menceritakan bahwa Hisyam bin Ismail, gubernur Madinah waktu itu, pernah menulis surat kepada khalifah Abd al Malik bin Marwan. Isi surat itu menyatakan bahwa rakyat Madinah sepakat untuk membaiat Walid bin Sulaiman, kecuali Sa'id bin al Musayab. Abd al Malik menjawab surat itu. Katanya, "Kamu tawarkan pedang kepadanya. Jika ia tetap menolak, pukullah dia 50 kali dan araklah keliling pasar Madinah."
Ketika surat itu sampai di tangan gubernur, Sulaiman bin Yasar, Urwah bin Zubair dan Salim bin Abdullah datang menemui Sa'id bin al Musayyab. Mereka mengatakan : "Kami datang untuk urusan penting. Surat dari Abd al Malik telah menyatakan dengan tegas, "jika kamu tidak mau membaiat, kamu harus dipukul." Kami datang untuk menawarkan tiga hal, kami minta kamu menjawab salah satunya. Pertama, gubernur telah mengirim surat dan minta jawabanmu : ya atau tidak, tetapi kamu diam saja. Sa'id mengatakan: "Orang-orang mengatakan bahwa Sa'id bin Musayyab telah membaiat padahal aku tidak melakukannya. Kalau aku mengatakan tidak, maka orang-orang akan mengikutiku." Mendengar ucapan Sa'id ini mereka diam saja.
Kedua, "Kamu dipersilahkan di rumah, dan untuk beberapa hari tidak usah keluar shalat. Gubernur merasa cukup lega apabila kamu tidak berada di tempat pengajianmu." Sa'id mengatakan: "Bagaimana aku tidak ke masjid, padahal aku mendengar adzan shalat ? Aku tidak bisa melakukannya."
Ketiga,  "Kamu dipersilahkan pindah ke tempat lain, agar gubernur tidak bertemu kamu." Sa'id menjawab, "Apakah aku harus takut pada makhluk Allah, padahal kenyataanya aku tidak begitu".
Sesudah itu ia keluar untuk shalat Zhuhur. Begitu selesai, dia duduk di tempat biasanya mengaji. Ketika gubernur shalat, dia diminta menemuinya. Gubernur langsung menyampaikan isi surat Amir al Mukminin. Sa'id menjawab, "Rasulullah saw. melarang  ada dua baiat".
Tatkala gubernur akan memukulnya, dia melihat kepribadian Sa'id yang membuatnya tidak sampai melakukannya. Lalu menyuruh orang lain memukulnya 50 kali cambukan. Sesudah itu Sa'id diarak keliling pasar Madinah. Mereka juga melarang rakyat mengikuti pengajiannya.
Sa'id bin al Musayyab termasuk ahli fiqh Madinah dan seorang mujtahid besar. Menurut Ibnu Umar: "Sa'id termasuk salah seorang mufti." Sementara  Qatadah mengatakan: "Aku tidak pernah melihat orang sepandai Sa'id bin al Musayyab." Hasan al Bashri, apabila menemui kesulitan seringkali menulis surat kepada Sa'id untuk minta jawabannya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar